Mioma Uteri dan Terapi Hormon

Seorang perempuan muda berusia 23 tahun dan telah menikah selama 2 tahun, berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan reproduksinya setelah pernah divonis menderita mioma uteri saat masih duduk di bangku SMA. Semasa sekolah, ia sering mengalami saki perut akibat haid, hingga suatu waktu ia pingsan. Setelah di USG, dokter obgyn memvonisnya dengan diagnosa mioma uteri. Setelah sembuh, ia mengaku tidak pernah mengalami menstruasi sedikit pun, dan ketika bertanya kepada dokter yang mengoperasinya, tidak ada jawaban jelas yang diterimanya karena sang dokter beralasan tidak mendapatkan izin dari kedua orangtuanya. Ketika membaca berkas dari rumah sakit, ia membaca mengenai diagnosa post op histerektomi dengan mioma uteri. Ia kemudian bertanya kepada saya mengenai histerektomi supra servikal dan apakah perlu terapi hormon estrogen meskipun sudah tidak memiliki rahim dan ovarium. Dan jika harus terapi, jenis terapi apa yang sebaiknya ia lakukan.

Histerektomi adalah tindak pembedahan mengangkat rahim (uterus). Ada 3 macam histerektomi: 1. Histerektomi radikal: pengangkatan rahim dan kedua indung telur (ovarium) dan kedua saluran telur (tuba Falopii), serta semua kelenjar getah bening di sekitarnya. Biasanya dilakukan pada kanker atau keganasan kandungan. 2. Histerektomi total: hanya seluruh rahim diangkat. Kedua indung telur dan saluran telur tidak diangkat. Biasanya dilakukan bila miom sudah terlalu besar, sehingga rahim dan miom sudah menyatu. 3. Histerektomi subtotal atau supra servikal: hanya badan rahim yang diangkat. Sedangkan leher rahim (serviks), kedua indung telur dan kedua saluran telur tidak diangkat. Biasanya dilakukan pada pasien yang masih muda. Jadi yang dilakukan pada sang pasien adalah histerektomi subtotal atau supra servikal, dimana leher rahim (serviks) dan kedua indung telur tidak diangkat. Dengan demikian dia tidak memerlukan pengobatan hormonal, karena secara alamiah tubuhnya tetap memproduksi hormon-homon kewanitaan.



Prof. Dr. Biran Aff andi, SpOG(K)